Kawasan Esek-esek di Melbourne

Kawasan Esek-esek di Melbourne

Di beberapa negara, bisnis prostitusi dianggap legal. Kawasan red light district bisa dijumpai dan terkadang bikin wisatawan penasaran seperti apa wujudnya, termasuk di Melbourne, Australia.

Malam melarut. Hawa dingin mulai benar-benar menusuk tulang. Di sebuah jalan sepi di sudut Melbourne, Australia, sebuah ruko sedikit lebih terang di banding sebelahnya. Lampu merah kelap-kelip menyala menggantung di atas teras kecil.

Hanya di depan gedung itu terdapat parkir tiga buah mobil. Tidak ada tanda apapun di depan gedung yang menunjukan itu adalah lokasi lelaki nakal melepas syahwat.

Tidak ada poster syur, tidak ada suara musik berdentum atau etalase yang memampang perempuan berbaju mini. Setiap tamu yang masuk, tamu akan menemui ruang tamu yang disulap jadi resepsionis. Sebuah poster cukup mencolok dipampang di dinding ‘No Condom No Sex’ dengan gambar alat kelamin laki-laki.

 

baca juga artikel berikut ini : Klub malam terbaik di Las Vegas

Cukup mencolok juga tanda dilarang memfoto atau merekam. Di luar itu tidak ada visualisasi sensual yang menggoda pria si hidung belang.

“Para PSK di sini terdaftar, dikontrol kesehatannya dan mereka membayar pajak Setelah tamu masuk, seorang mami lalu menawarkan perempuan koleksinya. Tamu lalu disuruh duduk di kursi kecil di pojok ruangan seukuran 2×3 meter itu. Sang Mami lalu memanggil satu persatu bergantian dengan memakai bikini menemui tamu sekedar menyebut nama.

“Hallo, I’m Melisa,” kata perempuan pertama dan langsung masuk kembali ke kamar. Kelimanya berparas Asia Tenggara dengan tarif seratus dollar Australia lebih per setengah jam. Mereka hanya melayani di ruko tersebut dan kalaupun ada yang ingin membawa ke hotel, tarifnya bisa berkali-kali lipat.

baca juga artikel berikut ini : Diskotik Di Padang Penuh Gemerlap Dunia Malam

“Mereka di identitasnya status pekerjaan ya PSK, kalau tidak ya model majalah dewasa Setiap rumah bordil memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Seperti rumah bordil yang berada dua blok dari tempat pertama. Ruko yang tidak ada keterangannya apapun dari luar berwarna lebih terang. Begitu dibuka, seorang lelaki Tiongkok duduk di meja resepsionis dan beramah tamah sebentar.

Di belakangnya, ada kain tirai kecil yang memisahkan dua ruangan. Lalu si papi memanggil satu persatu koleksinya. Nomor yang dipanggil lalu keluar kamar dengan memakai lingire dan membuka kelambu memperkenalkan nama. Setelah itu buru-buru kelambu ditutup dan giliran perempuan kedua, ketiga, keempat dan kelima silih berganti melakukan hal yang sama.